Bagiku, kemanusiaan tidak dibatasi oleh kebangsaan ataupun negeri. Dengan memandang ke depan, hubungan antar manusia sedunia akan sedemikian luas sehingga batasan-batasan kewarganegaraan semakin memudar. Justru akan menandakan kepicikan bagi yang menganut atau berkeras kepala mengukuhinya. Paspor hanyalah kertas, namun masih diperlukan untuk administrasi….
Kecintaanku pada tanah air lebih mengakar pada kemanusiaannya. Dengan berganti kertas administrasi yang berupa paspor, tidak berarti aku melupakan bahwa aku adalah orang Jawa, satu bagian dari bangsa Nusantara.
Aku tetap mencintai tumpah darahku dan manusia Indonesia.
************
Itulah pernyataan sikap patriotik Dini ketika melepas kewarganegaraan Indonesianya. Di mata Dini perbedaan bangsa dan budaya bukanlah sebuah jurang pemisah, namun seutas tali yang dapat menjalin manusia satu dengan lainnya. Seperti di waktu ia menjatuhkan pilihan untuk menikah dengan seorang diplomat Prancis, Yves Coffin. Laki-laki dengan latar belakang budaya yang berbeda dengan dia seseorang perempuan Jawa.
Jepang menjadi negara pertama tempat Dini menjalani kehidupan sebagai istri wakil konsul. Di negeri Matahari Terbit itu pula ia menjadi ibu bagi putrinya, Marie Claire Lintang. Suka dan duka pernikahan campuran ini dijalani dengan tulus dan sabar oleh Dini. Terlebih saat menemukan Yves tidak seperti yang ia kenal sebelumnya.